Minggu, 30 September 2018

Kampung Tematik diujung Tanduk


KAMPUNG PUTIH - Kawasan pemukiman yang dicat warna putih, hijau dan abu-abu di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Klojen, Kota Malang. Sumber : google.com

Kampung-kampung kumuh yang ada di Malang perlahan mulai disulap menjadi kampung tematik. Beberapa kampung direhabilitasi sedemikian mungkin agar terlihat aikonik dan artisitik sehingga masyarakat harapannya dapat datang untuk berlibur atau sekadar mengambil momen melalui kameranya. Pemerintah dan masyarakat setempat menjadi pondasi utama dalam gerakan rehabilitasi ini. Beberapa program diantaranya mengalami keberhasilan sebut saja kampung warna-warni Jodipan Malang yang telah meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat setempat melalui turis baik itu dari lokal maupun mancanegara yang berkunjung. Namun, beberapanya juga menjadi boomerang dan kegagalan khusunya bagi masyarakat yang tinggal disana, salah satu contohnya adalah Kampung Putih yang terletak di Jalan Celaket Kota Malang.

Kampung Putih mulai dibangun pada tanggal 15 Maret 2017. Abah anton selaku walikota Malang pada saat itu secara simbolik membuka destinasi wisata Kampung Putih. Rumah warga yang ada di kampung ini secara tematik disulap menjadi warna putih sehingga yang semula kumuh dapat menjadi indah juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin berkunjung.

Namun, sejak diresmikannya hingga hari ini (16/09/2018) Kampung Putih belum bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. Alih-alih bisa sukses seperti kampung tematik yang lain, justru menjadi bumerang sendiri bagi penduduk yang tinggal. Program-program yang direncanakan seperti spot foto juga pemberdayaan masyarakat tidak berjalan dengan masif.Padahal, pada saat diresmikannya Walikota Malang sendiri Abah Anton mengatakan akan adanya program-program agar masyarakat dapat diperdayakan sehingga menaikan nilai ekonominya.

Selain program-program yang tidak berjalan dengan mulus. Dalam lingkup internal sendiri masyarakat masih belum paham orientasi pemerintah dan juga belum adanya bentuk solidaritas secara solid di dalam masyarakat itu sendiri. Masyarakat terkesan acuh dalam meningkatkan nilai visual dari Kampung Putih ini sendiri. Padahal, dalam meningkatkan daerah destinasi wisata suatu daerah tidak dapat ditangguhkan ke dalam satu pihak saja tetapi juga setiap elemen yang ada.

Pemerintah perlu menerapkan janji-jani yang telah diutarakan agar tidak terkesan sebagai janji basi seperti pemerintahan sebelumnya. Masyarakat yang tinggal setempat pun perlu membentuk ikatan yang solid diantaranya. Beberapa komunitas maupun mahasiswa juga perlu membantu menyuarakan dan membranding serta turun langsung untuk membantu dari apa-apa yang mereka bisa bantu. Karena bicara kota, bicara kita.

Citizen Reporter Oleh Ibnu Dharma Nugraha
Malang Citizen

Senin, 06 Agustus 2018

Murtad dari Blogspot

Alhamdulillah setelah dinanti-nantikan dalam waktu yang cukup lama, saya berhasil migrasi dari domain blogspot.com menuju .com. Gegaranya sih karena tergiur sama promo domain juga hosting dari rumahweb.com yang harganya relatif murah. 

Pas lah untuk kantong mahasiswa meskipun dalam beberapa hari ke depan ini bakal ada penghematan yang ekstremnya rada-rada. 

Pertama kali gunain blogspot sebenarnya pas zaman MTs, waktu itu ada pelajaran TIK dan pembahasannya  tentang html di blogspot pake aplikasi notepad PC. Karena topiknya seru jadilah secara ngga langsung saya bikin akun blogspot pertama dengan nama blog yang alaynya minta ampun ( www. noe-ibnoe.blogspot.com/ ). Desain dan format tulisannya emang agak nelangsa ditambah isinya  yang absurd gak ketulungan yang kebanyakan cuman nyomot artikel website lain tanpa dikasih sumber, selain artikel yang hasil nyomot, pelan-pelan saya juga mulai nulis 1 post/ year.
Karena lupa pasword dan juga mulai sadar kalo nama blognya bisa malu-maluin keluarga, saya mutusin buat migrasi ke nama blog yang lebih relevan juga mudah diingat ( www.ibnudharma.blogspot.com ). Isinya pun Insha Allah lebih bijak dan bermanfaat. 

Alasan Murtad

Nah, karena domain .blogspot.com ini template nya gitu-gitu aja dan minim variasi yang kadangkala bisa buat saya jenuh, akhirnya saya mutusin buat pindah ke .com yang secara template banyak variasi dan mudah dalam kustomisasi. Kedua,  kebetulan banget rumahweb.com sedang ada promo murah untuk domain dan juga hosting .com jadinya saya kepincut untuk beli. Ketiga, karena domain .com ini berbayar dan sayang banget kalo dikosongin aja, harapannya sih bisa jadi pecutan untuk nulis, kan sayang udah beli tapi malah ngga digunain. Keempat, biar lebih keliatan profesional dan ganteng tentunya. Eh, tapi kalo ganteng mah udah dari rahim sih.
Sebelum migrasi kesini sebenarnya saya udah nyoba beberapa website yang memberikan jasa serupa. Pernah ke medium, selasar dengan sistem kurasinya, tumblr yang kena block pemerintah, sampe wordpress.com. Tapi karena alasan-alasan di atas tadi saya kayaknya bisa mulai betah beropini disini selama setahun. Tau deh kalo taun depan, moga aja masih bisa dipromo in, hehe.
Kalo boleh dikata, agak berat juga pindah domain, karena blog saya yang dulu ibnudharma.blogspot.com udah punya traffic yang cukup bagus di google ditambah hingga saat ini visitornya udah lebih dari 10.000 an (kemungkinan saya yang refresh 7000 kali) sehingga jadi bargaining position sendiri kalo search nama Ibnu Dharma di google. Tapi karena ada menu direct link saya rasa kegalauan saya bisa sedikit terobati lah ya.
Terakhir, saya mau terima kasih sama teman FILKOM saya yang udah bantuin migrasi juga murtad dari blogspot.com ke .com. Yang udah bantu ajarin gunain Cpanel, cara nginstal script wordpress juga ngejawab pertanyaan tetek bengek saya sampe jam 12 malam. Hatur nuhun pisan  Huda.
Saya rasa medium dalam melebar sayapkan perspektif berbentuk opini bisa dimana saja dan lewat jalur apapun itu, sesuai dengan selera masing-masing juga, bisa lewat selasar, medium, blogspot, wix, kompasiana dan masih banyak lagi. Yang penting adalah istiqomah dalam menjalani juga aktualisasi pada pembaharuan-pembaharuan. Semoga saya dan kamu adalah bagian dari itu.
Bismillah, sila ingin membaca tulisan-tulisan saya, insha allah saya akan mulai rutin menulisnya di blog baru saya yaitu ibnudharma.com. Saran dan kritik sangat membantu :)

Malang,
05/08/2018
Ibnu Dharma Nugraha




Minggu, 22 Juli 2018

Gagal Memaknai Kegagalan?

Dalam satu sesi wawancara online untuk masuk organisasi, saya ditanya tentang kegagalan terbesar dalam hidup. Sebuah pertanyaan mainstream, ter-globalisasi dan terselip diantara banyak pertanyaan wawancara sejenis. Siapa nama kamu?—Apa kelebihan kamu?—Apa kekurangamu?—Apa kesuksesan terbesarmu?—Apa kegagalanmu?. Menjadi pertanyaan yang tak jemu-jemunya ditanyakan oleh interviewer. Kalopun dijawab saya rasa jawabannya akan mainstream juga. Nama saya Ibnu—Kelebihan saya bisa mainin corel draw x20 dan saya tampan—Kekurangan saya ngga bisa manage waktu, jadi kadang kalo saya tidur tanggal 2 pas bangun udah tanggal 5—Kesuksesan saya dulu pernah ikutan lomba karya ilmiah, idenya tentang ngubah ukuran lele jadi sebesar lumba-lumba—Kegagalan saya blablablabla. Dan karena saking seringnya, beberapa pertanyaan yang diajukan tadi mudah ditebak sehingga saya yang tampan ini ngebuat opsi jawaban yang rasional, sedikit ngawur.

“Apa kegagalan terbesar dalam hidup kamu?” Cetus salah satu interviewer.

“Kegagalan terbesar dalam hidup saya adalah ketika ada kebaikan yang tidak bisa diiterasikan mas.” Jawab saya dengan gagah dan tampan sembari mengkibas-kibaskan poni agar lebih simetris.

“Saya ngga minta kamu buat orasi, saya minta jawaban kamu.” Sanggah salah satu interviewer disebelahnya yang acuh tak acuh melihat saya.

“Iya mas, jadi kadang ada kebaikan yang ngga bisa saya pertahankan sampai visinya terwujud. Jadi menyerah di tengah jalan, ngga istiqomah dan bagi saya itu adalah sebuah kegagalan terbesar.” Hufftt.

“Semisal dulu saya ikut kegiatan pengabdian di ranah pendidikan, tapi setelah purna jabatan. Purnalah juga hal-hal baik yang pernah saya lakukan. Atau ketika saya mulai merintis usaha, belum apa-apa, belum seberapa, saya menyerah karena melihat fakta di lapangan yang begitu sulit untuk dielakan. Disana lah adanya kebaikan yang tidak bisa diiterasikan yang muncul ketika saya berhenti di titik krisis, atau kembali masuk ke dalam zona nyaman.”

Dua interviewer tadi kelihatan kebingungan.

“Maksud kami, kamu pernah gagal misalnya IPK kamu di bawah 3.00, atau apa gitu.” Salah satu interviewer mulai memberikan contoh-contoh kegagalan.

“Ngga mas, saya sekarang IPKnya ngga di bawah 3.00.”

“Terus apa dong?” Tanya interviewer yang lain.

Kali ini saya yang kelihatan kebingungan.

Karena penasaran, besoknya saya coba tanya ke teman satu kampus apakah argumentasi saya kemarin itu bisa disebut sebuah kegagalan. Teman saya kebingungan. Boi-Boi, macam interviewer saban malam tadi aja kau ini ahhh.

Seperti halnya kesuksesan yang kadang-kadang tidak dapat diukur oleh ukuran materi atau juga eksistensi. Maka interpretasi kegagalan juga adalah hal yang sangat-sangat subjektif dan juga relatif. Saya gagal masuk PTN, saya gagal masuk organisasi, saya sampai sekarang masih jomblo. Adalah beberapa contoh dari kegagalan yang substansial namun tetap subjektif. Belum tentu apa yang dikatakan gagal oleh orang satu akan linier dengan kegagalan versi orang yang lain. Dan lagi karena fase kegagalan adalah tentang visi atau mimpi yang tidak bisa dicapai: ini akarnya. Tentu satu visi orang dengan visi yang lain tidak mesti sama, hal mendasar darinya adalah sisi perspektif yang berbeda-beda.

Kalo versi saya sih, saya dikatakan gagal ketika ada kebaikan yang tidak bisa diiterasikan (baca: diteruskan). Visinya jelas dan tetap elegan ; lebih baik atau tetap sama dari hari kemarin. Kalo keluar dan mengalami degradasi daripada itu, sudah tepatlah saya menyebutnya kegagalan. Dan ini yang sedang saya rasakan. Kalo kamu?


Malang,
23/07/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Selasa, 10 Juli 2018

Kombinasinya Pas!!

Saya suka makan mie ayam deket kampus saya, selain harganya murah ‘mas-mas’ penjualnya juga berkumis yang mana ini masuk kriteria pedagang mie ayam yang enak. Korelasinya dimana? Ntah. Kalopun ada serikat pedagang mie ayam yang enak saya rasa 2/3 nya adalah pria berkumis. 1/3 nya lagi adalah wanita. Hmm.. mungkin berkumis juga. Data darimana? Ntah, hanya perasaan saya aja.

Selain harganya murah dan ‘mas-mas’ pedagangnya berkumis, mie ayamnya emang enak pisan lah. Aromanya syahdu, kuahnya bak madu, mienya selembut salju, sawi hijaunya satu-satu, bawangnya bisa buat sendu, kecapnya hitam padu, pangsitnya kriuk-kriaku (akhirnya menemukan diksi ‘u’ yang nyeleneh kampretnya). Benar-benar mantap. 

Tapi yang buat saya paling penasaran adalah apa sih yang membuat mie ayamnya enak? Secara delusi, saya mulai bertanya-tanya juga berhipotesis. Apa karena ‘mas-mas’ nya berkumis? Ngga juga sih, buktinya tukang tambal ban di dekat rumah saya berkumis tapi bannya ngga enak. Apa karena bahan mie nya berasal dari Warung Ichiraku Naruto yang dikirim melalui lintas dimensi maya ke nyata dengan distorsi rotasi silinder sebagai antitesis teori dimensi paradox yang juga melawan Hukum Fisika Kuantum Everett-Wheeler ? Ngga bener kalo yang ini, ngawur. Atau karena seorang Ibe adalah sesosok manusia tampan tujuh turunan, tujuh kuadrat, tujuah benua, tujuh bilangan prima pertama, tujuh keajaiban dunia? Alasan terakhir irasional tapi, hmm… kalian mesti percaya bahwa ini fakta yang tidak bisa diganggu gugat. Oke jangan muntah.

Setelah berkelit dengan berbagai hipotesis delusional akhirnya saya menemukan satu alasan yang lebih rasional dibanding ‘mas-mas’ yang berkumis atau juga si Ibe yang tampannya minta ampyun itu; ini soal kombinasi. Kombinasi sering dikaitkan dalam elemen-elemen yang matematis. Tentunya kita masih ingat tentang materi permutasi dan kombinasi pas SMA bukan? Maksud saya masih ingat judul bab tersebut? Ya hanya judul, sekali lagi hanya judul. Bab tersebut mengartikan kombinasi sebagai banyaknya cara memilih anggota dalam jumlah tertentu dari dari anggota-anggota suatu himpunan. Tentu, pada kali ini pembahasan kombinasi tidak saya kaitkan dalam hal tadi yang barangkali sudah lupa juga materinya kayak gimana, hehe. Oke, kita akan membahas kombinasi dalam aspek lain non matematis.

Menurut saya, kombinasi adalah bagaimana cara mengakumulasikan berbagai hal atau elemen ke dalam sebuah wadah guna menghasilkan sebuah nilai yang mana bisa jadi baik juga bisa jadi buruk. Baik dan buruknya nilai ini ditentukan dengan kecocokan serta keintiman berbagai hal yang sudah dicampurkan tadi. Menjadi baik ketika sesuai dengan proporsi. Maksudnya adalah tidak menghilangan hal satu dengan hal yang lainnya juga tidak mencondongkan hal lainnya dengan hal yang satu. Dalam situasi ini, lagi-lagi mesti sesuai proporsi.

Mie ayam yang saya makan tadi adalah contoh konkrit nan ajaib dari kombinasi yang pas, berbagai macam bumbu dalam kaitannya ‘makanan’ bisa dicampur-adukan ke dalam satu mangkuk keberagaman berisi pasukan elite yang siap menggempur lidah dan siap mengocok perut: ada micinnya yang pas, sawinya yang pas, minyaknya yang pas, mienya yang pas, kecapnya yang pas, ‘mas-mas’nya punya kumis yang pas. Semuanya pas bersatu padu bukan untuk mengalahkan satu sama lain namun justru berkombinasi—terakumulasi guna melahirkan sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih baik secara nilai sehingga tercapailah visi dan misi ‘mas-mas’ berkumis tadi untuk menjadikan mie ayamnya enak macam melihat Ibe tersenyum simpul di bawah bulan purnama hari ke dua belas—oke yang ini antara enak dan enek.

Cikal bakalnya kombinasi adalah sebuah perbedaan, lebih tepatnya kumpulan perbedaan yang memiliki karakteristik atau sifat. Micin dengan sifat asinnya, kecap dengan sifat manisnya, atau pun kumis ‘mas-mas’ dengan sifat elegannya (ada apa dengan kumis? Sepertinya saya ingin mengadopsinya, gunting mana gunting?). Semuanya memiliki sifat maupun karakteristik yang berbeda, yang satu memiliki keunggulan dalam segi asin juga memiliki kekurangan dalam segi manis.Yang satu memiliki keunggulan dalam segi manis juga memiliki kekurangan dalam segi asin. Perpaduan khas ini menghasilkan suatu rasa yang tidak diduga menjadikan lidah ingin mencoba lagi di waktu yang berbeda.

Dalam berbagai lini kehidupan konstelasi wadah dari kombinasi bisa bermacam-macam tidak hanya mangkuk bergambar ayam yang menampung pasukan elite tadi. Bisa jadi wadahnya jauh lebih komunal dan jauh lebih luas. Seperti organisasi, tim startup atau bisnis maupun lingkungan administratif seperti bagian sekolah.

Dan pertanyaanya adalah dalam porsi apakah 'saya' akan berperan di dalam wadah tersebut? Memadukan satu irama langkah dengan irama langkah yang lain. Dan dalam posisi apakah 'saya' akan bermanfaat juga berguna? Mengkombinasikan superioritas yang satu dengan superioritas yang lain hingga nantinya menjadi peran yang integral di tiap sisi-sisinya. Dan sudah siapkah ‘saya’ untuk membuat mie ayam yang syahdu nan menggoda itu melalui mangkuk forum independen kepemudaan bernama FIM? Membentuk suatu kolase nan indah dan eksentrik? Hmm… sepertinya menarik.

Ibnu Dharma Nugraha
Peserta Forum Indonesia Muda 20
Penikmat Mie Ayam Putra Solo samping Gerbang Veteran Universitas Brawijaya

Jumat, 22 Juni 2018

Determinasi yang Mati

Ada yang bilang bahwa kenangan indah itu lahir dari berbagai kejadian yang hadir, dipendam dan sesekali dikenang. Seakan kenangan indah akan tetap indah pada termin yang lain. Besok-besok atau jika perlu hari ini aku ingin sekali mereformarsi bahkan merevolusi hal yang demikian, bukan karena tidak ada kejadian, bukan pula karena tidak ada yang dipendam atau dikenang; bukan. Pasalnya beberapa bagian dari itu adalah sebilah belati yang berputar 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Ujungnya yang berwarna silver agak karatan itu meluat-meluatkan lancipnya ke satu bagian anatomi tubuh yang sangat penting, saking pentingnya anatomi tubuh yang lain akan mengamuk dan jika perlu berkumpul-kumpul, berporak-poranda untuk menahan. Walau sakit.

Bagaimana tidak hati yang dulu kinclong putih tanpa noda, selalu bersiul bahagia yang malamnya diluapkan dalam lamunan mesra nan indah di depan riak-riak air yang jernih. Kini terkaku-kaku termangu meluapkan sendah gelisahnya di depan pematang, berkalut, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja, dihempas kafilah-kafilah angin berlalu yang gemulai dan digigit penyakit lama yang akut kalau sedang diingat. Warnanya kian hari kian mencolok cokelatnya yang makin lama makin hitam pekat bak ban hitam bermerek bridgestone yang dilumas kit black magic sebanyak tujuh pangkat dua kuadrat di akarkan dua—sama aja. Hatinya kini dilanda nestapa yang begitu lebat macam rambut kribonya bena kribo yang dikeramasi pantene lalu di bilas dengan air sawah hasil kombinasi dengan larutan kaporit. sungguh wangi dan lebatnya tidak dapat dilayangkan oleh bayang-bayang. Ditambah lagi dilibat sebilah belati lancip berkarat 180 derajat dari arah depan, atau 360 derajat dari arah belakang. Tertusuk, tercabik. Sporadislah dia dan sakit.

Bagaimana ia bisa kembali seperti semula jika yang diharapkannya menjadi semula tidak kunjung juga semula. Bagaimana ia bisa kembali bersiul bahagia bilamana yang ia siul-siul tak lagi muncul. Bagaimana ia bisa kembali beriak-riak jika tidak ada airnya. Bagaimana bisa ia kembali putih jika pemutih yang dulu hadir sekarang sudah kadaluarsa sehingga melupakannya. Bagaimana bisa? Kini yang ia tahu hanya jeruji besi berisi kebahagian yang tertutup rapat dan erat. Di ikat rantai belukar dua belas rantai dibagi dua dikalikan enam yang terkonsilidasi paripurna dengan gembok bermerek HSG dijauhkan dari pasangannya yang tumpul bergelombang absurd agak karatan: kunci. Di jaga ketat oleh kutukan-kutukan masa kini yang mencekam, jahat  bak awan cumulonimbus yang mudah marah jika dibenturkan dengan lawan kutubnya. Glegar! Gledek! Glegar! Gledek! begitulah bunyinya. Cengklang! Cengkling! Cengklang! Cengkling! begitulah kilatnya. Ditempatkan di bagian inti bumi; bagian bumi yang paling dalam, dipojokan dan terlupakan. Terbakarlah ia saking panasnya.

Kini hatinya mudah marah jika ada yang bertukar pikiran atau nasib tentang kehidupan romansa dialektika dua sejoli belum sah, sesuai nalar dan berlogika, namun tidak berdasar moral beragama. Konon dulu, pernah ada hati lain yang mampir di hatinya, ngekos hingga ngontrak. Bertalu-talu lalu terdeterminasi menjadi ketetapan hati, menjadi rasa kemudian mati. Tapi kini, hati itu sudah kabur di bawa hati yang lain yang lebih luas, lebih putih, lebih mantap siulannya, lebih gagah riakkannya, lebih jernih airnya saking jernihnya katak sampai lupa daratan bahkan sampai lupa dia amfibi. Lebih terbukti pastinya.

Pernah satu waktu ada pihak yang ingin merekonsiliasikan hatinya dengan hati yang telah di ajak pergi oleh hati yang lain itu. Tapi sayang beribu sayang, tapi sayang berbapak sayang, tapi sayang berbibi sayang—jika dilanjutkan bisa sampai cicit-cucut-cecet. Hati lain itu tidak ingin kembali. Tidak ingin berekonsiliasi. Tidak ingin ngontrak dengan masa kontrak yang jangkanya saja tidak pasti. Reyot dan penuh petaka. Ia sudah betah, gegap gempita, bahagia dengan hati yang membawanya pergi. Lebih tepatnya hati yang memberikannya kepastian, bukan kepalsuan. Memberikan bukti, bukan janji. Datang dengan gagah, bukan gegabah. Meminta restu, bukan merayu. Melewati jalan yang pantas, bukan pintas. I’tikadnya baik, bukan picik. Ikhtiarnya lurus, bukan jadi virus. Begitulah ia hingga akhirnya menjadi rumah indah bagi hati yang pergi itu hingga sakinah, mawadah, warahmah. Hingga beranak-pinaklah hatinya melahirkan hati-hati suci yang lain. Hingga mautlah yang akan memisahkan dua hati itu. Apa-apaan ini?!

Determinasinya telah mati ditinggal pergi oleh hati yang telah cukup lama menetap namun tidak pernah ditetapkan sebagai bagian pelipur lara juga bahagia dalam hubungan yang benar-benar benar. Hati yang telah pergi telah meminta pula kepastian setiap hari: sehari tiga kali, malam, siang, pagi. Hati yang telah pergi telah lama pula tahan dari musim hujan ke delapan sampai musim kemarau ke sembilan. Hati yang telah pergi telah sabar pula hingga puncaknya terpapar pancaran kelakar dari persatuan setan dua sejoli hingga kalau bablas bisa jadi tiga sejoli kalo bablas lagi bisa jadi dua sejoli kembali.

Hati yang ditinggal kikuk berkalut itu akhirnya sadar bahwa determinasi yang mati adalah salahnya sendiri, tidak dan bukan salah hati yang membawa hati yang pernah ngontrak itu pergi. Kembali ia tercenung merenung di depan pematang, di bawah pohon, di atas bumi, ditemani senja makin merunduk yang sedikit lalu berbisik jahat namun baik. “Jika sudah siap baru datangilah, ketuklah dan ucapkan dengan takzim maksud dan tujuan dan visi-misi dan rencana dan harapan dan impian dan kepastian dan cita dan cinta dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.” Ucapnya yakin serta kuat macam akar beringin umur 100 tahun tercekam erat sampai horizon tanah B dan hebatnya menyelisik lalu terserap ke bagian anatomi tubuh yang lain. Bergetar dan tersadar. Sekali lagi. Apa-apaan ini?!


Kuningan,
22/06/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Senin, 18 Juni 2018

Kisah Mata, Jari, dan Handphone Kekinian

Semilir angin menyelisik ke celah jendela kusam yang tidak begitu rapat lalu tereksponen ke berbagai sudut-sudut ruang di dalamnya. Si angin sulung yang tak sabar berlari kencang dan menabrak sebuah jendela kamar di dalam ruang yang terkadang menimbulkan bunyi-bunyi renyah. Si bungsu yang lembut menyaru di belakangnya, melindapkan bunyi-bunyi tadi pada irama yang filantropis—Cinta.

Di sudut timur di luar jendela, kepala bundar mentari mulai menampakan ronanya. Semburat sinarnya menyirami banyak permukaan tepat berada di bawahnya. Tak terkecuali jendela kamar di ruang tadi. Cahayanya mulai mengintip manja ke dalam kamar melalui jendela persegi yang tidak terlalu besar lalu menghasilkan bayangan-bayangan parsial di dalam. Seketika itu pula sinarnya merefleksikan bermacam bentuk debu yang semula kasat bagi mata.

Sementara angin dan semburat mentari beduyu-duyu datang dengan simbiosis yang komensalis: tidak saling menguntungan. Di dalam kamar itu pula sedang ada perseteruan yang gejolaknya terdengar hingga ke kamar di sebelahnya, di sebelahnya, hingga di sebelahnya lagi. Lieur. Bunyinya sampai membuat gendang kepala berdendang sehingga membuat ramai seketika. Perseteruan antara alarm dan irama sirkadian memang sering terjadi, khusunya di kamar tadi. Yang satu kekeuh pada tugasnya, dan yang satu lagi kekeuh pada nafsunya. Kadang dimenangkan oleh alarm dengan bunyi ningnangningnongnya, tapi lebih sering di menangkan oleh irama sirkadian yang lembutnya bagai kapas namun berakhir dengan sakit seperti di colok duri durian dari Thailand. Kenapa harus Thailand? Ntah.

Kamar itu tidaklah terlalu besar. Ukurannya sekitar enam kali empat meter yang di dalamnya ada sebuah dipan, lemari, meja belajar, dan beberapa gantungan baju. Susunan benda-benda tadi terlihat abstrak  atau karena tadi malam benda-benda tersebut kelayapan dan begadang sehingga lupa akan posisi awalnya. Sebuah dipan terletak di depan lemari, lemari terletak di belakang meja belajar, meja belajar terletak di antara dua benua, dan gantungan baju terletak di selat sunda. Ngga usah dibayangkan.

Pada hari itu alarm dengan bunyi ningnangningnongnya akhirnya memenangkan pertarungan. Memekakan telinga untuk beberapa saat. Dua buah mata perlahan terbuka sementara tangan kanan secara refleks mematikan alarm handphone yang ada di samping kepalanya, sesekali tangannya mengusap mata yang sedang lusuh karena kotoran alias belek. Dua buah mata tadi perlahan mengintai sekeliling melihat apakah hari sudah cerah lalu menatap samar ke sebuah layar handphone berukuran lima koma lima inch, berpanel amoled dengan ram tiga giga—ngga penting untuk dibahas. Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, waktu yang sangat siang untuk seorang mahasiswa bangun dari tidurnya. Dua jempolnya gesit membuka pattern kode tanda masuk, tanpa didesak ia membuka media sosialnya dan melihat beberapa chat yang belum sempat dibaca kemarin malam. Dua jempolnya kembali gesit membalas satu persatu chat yang telah tenggelam, membuat dua kelingkingnya iri dan dengki. Sesekali bibirnya tersenyum simpul sehingga dua bilah pipinya tertimbul-timbul. Lucu menurut batinnya.

Pikirannya memang masih terantuk-antuk namun tidak dengan mata, jari, dan handphone berukuran lima koma lima inch, berpanel amoled dengan ram tiga giga. Mata dan jari seolah sevisi untuk memperdaya pikiran dan anggota badan lain yang terkulai lemas di atas kasur empuk dan nyaman.

Chat yang tenggelam sudah dibalas satu persatu. Mata yang sudah jemu mengajak jari untuk berkelana ke dunia lain yang berbeda, penuh kontroversi yang kebanyakan tidak realistis dalam kenyataan: Timeline. Segala berita artis, politikus, selebram, tiktokers yang ngga penting sampai yang sangat ngga penting, postingan viral dengan komentar-komentar yang “sok pintar” bisa ditemuin di sini. Beberapa memang menggunakannya dengan bijak namun kebanyakan adalah sebaliknya.

Si mata dan jari mulai berkelana lagi jauh ke bawah timeline. Sesekali bibirnya tersenyum simpul melihat postingan-postingan yang lucu. Matanya yang belum puas kembali menelisik ke dasar seolah ada mr. bean- mr. bean baru di postingan berikutnya. Mata dan jari hanya punya satu visi yakni mencari kesenangan batiniah melalui layar handphone berukuran lima koma lima inch, berpanel amoled dengan ram tiga giga.

Tak peduli seberapa lama ia berselancar, tak peduli seberapa lama waktu yang dihabiskan selama itu adalah ruang-ruang kesenangan dengan bingkaian senyuman akan terus dilakukan, kegiatan rutin pada masanya bagi mereka si kaum millenial.

Pukul dua belas lebih empat puluh menit. Di tempat yang sama, senyumnya kembali tersimpul-simpul, pipinya merekah, otaknya komat kamit, dua jari kelingking makin iri dan dengki. Mata dan jari tidaklah jenuh, begitu juga handphone yang tertancap mantap pada sambungan kabel usb. Mata, jari dan handphone menang melawan pikiran-pikiran rasional. Selalu, dan selalu ; berminggu-minggu, bertalu-talu.


Kuningan,
14/06/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Selasa, 15 Mei 2018

Melangitkan Langit

Sore itu, sekitar pukul 04.15, tidak terlalu ramai. Di serambi masjid fakultas. Hanya ada satu hingga lima mahasiswa yang sedang sholat ashar berjamaah, beberapa lagi mengerjakan tugas di gazebo yang cukup luas dekat masjid. Bercengkrama, tertawa lalu fokus lagi mengerjakan tugas di depan laptopnya.

Seperti biasa, suasana sore cerah adalah suasana yang indah. Di ufuk barat ada langit yang mulai menampakan jingganya. Ada angin yang tidak ramai namun lemah gemulai. Suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak begitu rendah seakan memaparkan diri untuk menenangkan hati, tak jarang juga jadi ajang kontemplasi, atau tidur.

Di serambi itu, saya sedang bercengkrama dengan salah satu sahabat saya. Tidak perlu disebutkan namanya, saya takut dia terkenal karena ini. Dengan posisi duduk menyila, bersandar di tembok menghadap ke utara ke luar masjid, kami mulai bercerita ngalor-ngidul, tentang pengalaman, masa depan, dan banyak hal lain. Suasana serambi itu benar-benar membuat nyaman. Mungkin karena tepat di sampingnya ada dua pohon beringin yang besar dengan kanopi pohon yang sangat lebar. Oksigennya langsung masuk ke hidung, diteruskan ke paru-paru lalu dikeluarkan dalam bentuk karbon dioksida. Atau karena masjid memang selalu memberikan irama eksaltasi, yang walaupun tidak panoramik namun artistik--syahdu.

“Bro, jangan terlalu membanggakan mas x. Menyebarluaskan kisah suksesnya ke seantero negeri namun lupa bahwa kita juga punya hidup yang harus di jalani untuk kemashalatan ummat. Tapi belum juga kita lakukan. Hingga detik ini, hingga usia ini” Ucapnya ditengah pembicaraan seru kami.

Pembicaraan dengan konteks eksistensi dan prestise cukup sering kami bicarakan. Walaupun dalam masalah yang berbeda tapi tetap dalam topik yang sama. Di semester 1 misalnya, diskusi tentang mahasiswa yang sering ikut kompetisi pernah menjadi bahan obrolan kami atau juga jabatan-jabatan mahasiswa di dalam organisasinya tak luput untuk dibahas. Dan kali ini mengenai capaian beberapa orang yang kami kenal dengan umur yang tidak terpaut jauh. 

Pemikiran liar sahabat saya kadang bisa menjadi bahan renungan untuk mawas diri akan perubahan-perubahan yang terjadi. Agar tidak pongah. Agar bangun.

“Takutnya kalo berlebihan melebih-lebihkan kelebihan orang lain. Kita jadi lupa bahwa kita juga punya kelebihan yang harus dibuktikan dan juga diterapkan. Kan banyak sekarang yang bercerita tentang hidupnya orang lain. Dari yang baik lah sampai bahkan yang buruk. Tapi lupa bahwa itukan bukan hidup dia” Ucapnya menambahkan argumennya tadi.

Saya diam agak lama, bukan berfikir untuk menyanggah seperti biasanya. Tapi justru menyanggah fikiran lama saya—incumbent. Memang wajar, sebagai manusia kita akan merasa bangga jika teman, orang terdekat, bahkan yang tak dikenal sekalipun mencapai hal-hal yang luarbiasa, di luar batas kemampuan manusia pada umumnya. Melangitkan yang sudah langit. Dan membumikan yang masih bumi. Namun dalam kacamata teman saya, kita juga seharusnya bisa jadi kebanggaan, bukan hanya membanggakan.

“Tapi kan, kita bisa belajar dari kisahnya, kisah jatuh bangunnya, kisah terpuruknya.” Iseng-iseng saya menyanggah walaupun dalam batin memang menyetujui.

“Maksud gua, jangan sampai berlebihan to. Kisah sukses bukanlah hanya untuk dipelajari lalu disebarluaskan, tapi juga dipelajari lalu dilakukan. Percuma kalo kisah baik mereka hanya tersangkut dalam otak kecil kita, yang kadang juga lupa. Tapi kalo dilakukan justru akan lebih baik kan manfaatnya.” Ucapnya agak keras menandakan ia serius dengan apa yang dikatakan.

Saya perlahan mulai memahami maksud yang ia jelaskan. Saya juga mulai paham bahwa dirinya sedang mengalami kegundahan hati yang cukup dahsyat. Mengingat pada umur 20 tahunan ini masih juga banyak hal yang belum dilakukan sehingga terjerat dengan quarter life crisis, krisis di 1/4 hidup. Saya tahu karena memang kami sudah berteman selama kurang lebih tiga tahun di tanah perantauan ini.

“Jadi gimana?” Saya bertanya dengan nada yang agak memojokan, sekaligus ingin tahu apa yang akan dia lakukan.

“Yaudah, dari dulu kan kita udah tau bahwa hal yang baik dan berada di puncak tidak dapat dicapai dengan cara yang mudah, polanya kan gitu. Pasti ada jatuh yang selanjutnya belajar untuk bangun. Yang sulit memang ikhtiar, istiqomah dan penjagaan idealismenya. Rata-rata orang yang biasa aja kan mereka ngga sabaran, ya mungkin kaya kita. Maunya instan lalu jebret goal tercapai semuanya. Padahal kan ngga kaya gitu” Ia meyakinkan dengan tampang yang kurang yakin.

Saya tidak menyanggah pernyataanya, karena memang tidak ada yang perlu disanggah dari ucapan itu.

“Intinya kita harus berkarya, karena karya adalah bukti bahwa kita pernah ada” Ucapnya dengan gaya yang kekerenan setelah sebelumnya berfikir satu hingga dua menitan.

Di serambi masjid fakultas itu, saya kembali berkontemplasi tentang hal yang sudah dilakukan namun belum juga maksimal. Di serambi masjid fakultas itu, ia menyadarkan bahwa sebagai manusia menjadi bermakna dalam konteks kebermanfaatan haruslah dimulai, bahkan kalo hanya sebatas ukuran biji zarah. Di serambi masjid fakultas itu, saya dan dia kembali merenung--jenjam.

Malang
16/05/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Senin, 30 April 2018

Digimon dan Tipuan

Karena alesan kurang kerjaan, saya iseng-iseng scrolling beranda di facebook dan nemuin satu postingan viral dengan kesan yang mendalam, postingan ini bukan tentang kenestapaan seorang jomblo yang hidupnya sendiri dan sering dikhianati. Bukan juga tentang curhatan-curhatan payah para pesimisme, apalagi video tik-toknya ABG zaman now; bukan. Selain jadi ajang kontemplasi, postingan ini juga bisa membawa pikiran pembacanya kembali ke era 90-an, dimana layang-layang yang dikejar, gangsing yang diputar, dan dua kertas yang di adu jotoskan. Juga dapat dicermini lalu diambil sudut presisinya,  versi saya ini disebut extra ordinary kontemplasi. Anjay.

Saya yakini, kita yang kecil dahulu (2000-an) adalah manusia-manusia lugu, yang mengikuti sekuel hidup dengan basis hidupnya orang lain. Buktinya? Permainan tamiya tempo 90-an begitu hits di seantero pertiwi, gangsing, crush gear, dll. Eksistensi kita akan diakui ketika berada pada posisi sama, atau dalam hal lain adalah posisi lebih keren sehingga membuat pongah akan bentuk, kuantitas maupun harga mainan itu dan lalu munculah komplimen-komplimen tabu versi anak-anak. 

Makannya ngga heran kalo “dulu” anak-anak cowo sehabis disunat selalu ingin beli mainan yang bejibun, selain karena alesan eksistensi tadi akan lebih keren jika dipamerkan ke anak-anak lain yang belum beli = belum disunat, kemudian akan timbul semangat sunat pada jiwa sanubari mereka. Anjay.

Kalo diingat emang banyak banget mainan yang udah saya beli, yang kebanyakan malah ngga kepake dalam beberapa hari setelahnya. Ada yang dari pinggir jalan, pedagang keliling atau juga mall yang harganya bisa nyampe 100 ribuan. Saya jadi kepikiran gimana kalo saya versi dulu udah punya pemikiran yang cukup dewasa, mungkin saya akan bilang sama orang tua saya daripada dibeliin mainan lebih baik ditabung uangnya buat biaya kuliah nanti, mungkin juga saya akan bilang untuk ganti channel power rangers jadi channelnya Karni Ilyas di Indonesia lawyers club.

Salah satu mainan yang cukup berkesan bagi saya adalah mainan dibawah ini, bentuknya berupa buku dengan ukuran A4 sekitar 10 halaman, cover depannya agak tebal berwarna-warni dan dipenuhi berbagai macam spesies digimon, di dalam bukunya hanya ada kertas biasa yang ngga ada apa-apa alias kosong. Ini bukan buku gambar, juga bukan buku death note yang kalopun ada pasti para jomblo akan sangat girang. Ini semacam buku ekspedisi para penjelajah uang Rp.500-an, yang menyasar anak-anak dengan uang jajan minimal Rp.1.000/ hari. Para pemilik buku ini diberikan tanggung jawab yang cukup besar, yaitu mengumpulkan seluruh sticker spesies digimon dari awal hingga ke tahap evolusinya. Jika dikumulatifkan mungkin sampe 100-an lebih spesies digimon, dan karena faktor randomisasi, digimon-digimon ini sulit untuk didapatkan.
Mainan tempo kecil dulu, kalo ngga salah pas kelas 4 SD
Bayangkan aja, sang pemilik harus mengeluarkan uang Rp.500-an untuk beli 3 sticker yang acak, jadi kalo pada kesempatan kedua ada sticker yang sama kemungkinan besar akan ditukar, atau mungkin bisa juga dijual kembali ke orang lain yang membutuhkan. Kalo udah komplit, bisa ditukar jadi gangsing, tamiya atau mainan lainnya seharga Rp.10.000-an. Saya baru tahu minggu-minggu ini kalo saya kena tipu, andai kata saya memilih untuk menabung dibanding mengkoleksi sticker digimon tadi mungkin saya bisa beli 3-4 gangsing, bisa juga beli gorengan selama 1 bulan.

Anak kecil dan orang dewasa
Anak-anak adalah segala objek penipuan kelas teri bahkan hingga kelas kakap kalo kasusnya kaya penculikan, atau juga pemerkosaan. Hal ini terjadi karena pola pikir mereka yang standar dan masih polos, lebih polos daripada kaos oblong. Makannya zaman saya dulu juga kalo ada sepatu yang berhadiah mainan selalu banjir orderan, disatu sisi karena eksistensi dan pamer sedangkan disisi lain adalah penipuan maya si penjual, padahal mah sepatu dan mainannya juga cepat rusak dalam beberapa minggu. 

Unsur tau bahwa kita ditipu adalah kuadran waktu setelahnya, baik secara temporal ataupun tiba-tiba. Hal ini membuktikan juga pada fasenya setiap pikiran kita akan melahirkan suatu yang disebut kebenaran dengan basis data dan basis nyata. Sehingga doktrin postulat sebelumnya bisa kita patahkan dengan mudah. Seperti kilas balik yang mengantarkan pada suatu hal positif. Mungkin wajar jika tipuan ini terjadi pada anak-anak dengan kepolosannya tadi, tapi apa masih wajar jika terjadi pada orang dewasa dengan pemikirannya yang “katanya” dewasa pula? Akan aneh sih kalo penipuan ini justru terjadi pada orang-orang tersebut, yang nyatanya malah terjadi; Skema ponzinya first travel, beras plastik, telur palsu, dll. Lucu.

Otak manusia memang terbiasa untuk tidak tertarik pada fakta-fakta kecil yang dinilainya biasa, sehingga kebohongan mudah sekali diserap oleh otak. Salah satu penjelasannya karena manusia emang dibiasakan untuk kikir secara mental, mempercayai intuisi dibandingkan dengan analisa; tidak referal, meyakini persepsi mainstream yang divisualisasikan pada eksistensi yang menurutnya benar; delusi. Saya belum tahu juga apakah hal ini masih terjadi pada kita yang katanya “dewasa”. Atau masih percaya pada mitos bumi dengan bentuk datarnya? Ntah. Jadi sederhananya dapat kita katakan bahwa anak-anak dan orang dewasa sama aja kalo kena tipu, yang beda hanya skala dan pangsanya saja. Kalo dulu digimon, sekarang ponzimon. Eleuh, eleuh.

Dalam langkah preventif, ada banyak hal yang bisa dilakukan seperti menambah literasi yang diiterasikan dengan penuh pembaharuan, melebarkan sayap perspektif, juga sedikit demi sedikit untuk berfikir ala dialektika.

Dan temporal waktulah yang akan menjawab, apa kita yang saat ini benar akan merasa benar juga dikemudian hari. Dan, distansi spasial lah yang akan membuktikan, apa pada tempat yang kita yakini tepat akan juga tepat di tempat lain berikutnya. Ntah, toh saya pun baru tau saya ditipu 10 tahun setelahnya. 

Malang
01/05/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Sabtu, 14 April 2018

Langkah Kecil yang Ciamik

Kurang lebih, sepekan yang lalu saya ikut project magang berbasis sosial  sebagai salah satu syarat untuk menjadi bagian dari Forum Indonesia Muda (FIM) 20 Regional IV yaitu Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Tema project magang kali ini mengangkat isu pedesaan yang ada di Malang Raya. Kenapa desa? Jika ditilik secara seksama desa hari ini dilanda berbagai potensi namun juga masalah, rata-rata justru masalahnya adalah tidak bisa mengembangkan potensi desa tersebut, jadinya seperti huruf O, ngga habis-habis perputaranya dan gitu-gitu aja. 

Hal ini bukan berarti desa tidak bergerak dan diam, namun permasalahan tersebut secara general tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu atau dua pihak saja. Mengingat akar masalah dari potensi itu adalah bercabang-cabang, tumbuh, dan menopang berbagai kebijakan yang mungkin tidak berpihak pada masyarakat namun berpihak kuat pada kaum-kaum metropolis. 


Dari hasil survey singkat menggunakan metode kualitatif (wawancara) terhadap tiga desa hasilnya dapat dikira, dan terkesan sama. Yang satu punya potensi di bidang peternakan, namun masalahnya justru pada harga susu yang murah meriah, yang lainnya pun demikian. Adanya potensi justru dibarengi pada permasalahan-permasalahan yang cukup pelik jika dikontemplasikan dengan bijak.


Permasalahan desa di Negara kita memang tidaklah sama antara satu desa dengan desa lainnya, namun secara komunal dapat di jabarkan pada beberapa bagian. Seperti pendidikan yang kurang merata, infrastruktur yang tidak memadai, SDM yang masih rendah, Indeks Koefisien Gini atau ukuran ketimpangan masihlah sangat tinggi sehingga desa yang semulanya memiliki potensi untuk berkembang kemudian terbelenggu oleh rantai permasalahan-permasalahan tersebut. 

Padahal dari 9 Nawa Cita yang di gagas oleh Presiden Jokowi salah satunya adalah terkait dengan Pedesaan “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”. Namun nyatanya masih banyak kendala serta tantangan, oleh karena itu dalam kaitan membangun desa ini tidak bisa ditanggung jawabkan pada satu elemen atau dua elemen Negara, namun perlu adanya integrasi diantara satu pihak ke pihak lainnya, tidak linier dan lurus tapi eksponensial, bercabang dan menggapai hal-hal yang semula tidak dimungkinkan.

Langkah Kecil yang Ciamik
Alhasil, peserta yang hadir pada agenda open house kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan social project bertemakan “Villagenesia”. Singkat cerita dan setelah melalui berbagai cerita padat, penuh kekhusyuan dan mengasyikan. Kelompok kami, kelompok Kalem “4” memutuskan untuk melakukan social project di Desa Kidal dengan mengangkat isu Heritage nya yakni peninggalan sejarah tangible bernamakan Candi Kidal. 

Candi Kidal bisa dikatakan sebagai sebuah potensi destinasi wisata desa namun dalam penerapannya tidak luput dari permasalahan, seperti anak muda yang kurang cinta sama Candinya, beberapa bahkan ada yang mencorat-coret bagian Candi, dan yang lainnya ternyata masih banyak orang di luar Desa Kidal yang belum tahu candi Kidal. Alhasil, kami memetakan pada dua orientasi dasar untuk membantu potensi serta permasalahan tadi. 


Pertama, dalam ranah internal kami berupaya agar masyarakat setempat terkhusus anak-anak kecil zaman now dapat lebih mengenal warisan budaya yang ada di desa mereka, terlebih jika kita lihat arus globalisasi hari ini berdampak juga kepada isu budaya yakni munculnya penurunan rasa cinta terhadap warisan budaya masa lalu, upaya ini kami lakukan yakni berkolaborasi dengan beberapa pihak (Press Release Kegiatan)


Kedua¸ pada ranah eksternal kami mencoba mempublikasikan dan mensebarluaskan Candi Kidal ke dalam tatanan masyarakat terutama Mahasiswa yang ada di Kota Malang bahwa di titik jauh di luar radar mereka terdapat peninggalan sejarah yang harus diupayakan serta tetap hadir keeksistensinya. Karena tentunya peninggalan sejarah tersebut memiliki nilai historis tinggi yang dapat kita petik hikmah kejadiannya.

Masalah desa memang begitu berbelit-belit, pelik dan ruwet, dari hulu hingga hilirnya selalu saja ada hal destruktif dilematik yang harus didiskualifikasikan, didiskusikan dan dirampungkan secara bebarengan. Lantas timbul pertanyaan bagi pemuda milenial hari ini “Bisa apa kita (pemuda) pada kondisi ini?” atau “Uang juga masih minta dari papih mamih, kayaknya ngga bisa deh” atau lagi “Eh, masih banyak tugas kuliah juga sih, hehe” Sebuah kalimat “Lakukan apa yang bisa dilakukan” menurut saya cocok dilantaskan pada kondisi yang tidak lumrah ini. 

Masalahnya lagi-lagi kita selalu berurusan pada hal-hal besar dengan niat mengubah yang besar pula, Melakoni mimpi-mimpi ilusi yang sebenarnya ngga bisa kita lakukan hari ini. Alhasil yang semula mengaung untuk merubah lalu mengembek dan payah, terjatuh ke dalam lubang keniscayaan bahwa benar adalah besar, dan kecil adalah ciut. Maka, kuncinya hanya satu, “Lakukan!!”. Sesederhana apapun idenya, Sekecil apapun dampaknya, dan dalam ruang lingkup apapun itu selagi dilakoni dengan niat yang ikhlas untuk membantu sesama bagi saya adalah suatu hal yang ciamik dan baik. 


Toh, bukanlah hal-hal besar yang saat ini terjadi juga dimulai dari hal kecil yang kontinu, konstan serta penuh dengan pembaharuan? Facebook dari bagasi mobil rumahnya dan Trans Company dari mesin fotocopy sewaanya.

Alegorisnya bisa kita kaitkan pada sebuah api besar. Api besar  lahir dari pantikan api-api kecil yang kemudian tumbuh, memanas, menggelora dan menimbulkan asap dimana-mana. Efek jeranya adalah “KEBAKARAN” yang membuat kepanikan lalu merajela, membuat orang lain bangun dari tidur, sadar dari panorama mimpi, dan pulih dari ngga jelasnya ngelamun. Sehingga kemudian membaralah semangat melakukan kebaikan di daerah-daerah terpencil yang lain. Yang semula diam lalu berjalan dan yang semula berjalan terbaharukan untuk berlari. 

Pada akhirnya terbentuklah efek domino kebermanfaatan sehingga hadir langkah-langkah kecil di daerah yang lain, berjuta orang akan melakukan hal berbeda dengan orientasi kebaikan yang sama. Bayangkan, langkah kecil ciamik itu menyeluruh dan menebar.


“Guna apa mandala Sabang sampai Merauke jika yang ditilik hanya metropolis penuh begal ?” #SelfReminder

Malang
14/04/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Press release project magang kelompok kalem “4” dapat di baca di koran Surya Malang (10/04/2018) atau juga versi onlinenya dapat di baca di sini http://surabaya.tribunnews.com/2018/04/09/cinta-datang-dari-kidal


Rabu, 28 Maret 2018

Berbeda Adalah Kita

Betapa beruntungnya saya bisa hidup berdampingan dengan banyak orang yang tidak memiliki kesamaan cara pandang, fikrah, atau lebih kuat lagi adalah idealisme. Faktanya, selama kita hidup selalu saja dihadapkan pada suatu hal yang disebut-sebut sebagai perbedaan. 

Menurut Lindgren (1980) perbedaan dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk variasi, baik pada aspek fisik maupun psikologis. Sedangkan menurut Gerry (1963) perbedaan dapat dikategorikan ke dalam lima bentuk yakni : 1. Perbedaan fisik 2. Perbedaan sosial 3. Perbedaan kepribadian (watak, motif, minat) 4. Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar, dan terakhir adalah 5. Perbedaan kepandaian di sekolah. 


Dari zaman nobita masih SD sampai nobita tetap SD, ke-5 perbedaan tersebut sudah menjadi hal yang lumrah untuk kita temui juga jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Satu-satunya yang ngga lumrah mungkin adalah cara kita menyikapi dan sudut justifikasinya.

Dunia perkuliahan lagi-lagi menjadi gerbang yang besar untuk memulai dan membentuk hal-hal baru bagi si pembelajar dengan niat mengubahnya, seperti teori big bang yang menjelaskan bahwa bumi terbentuk akibat gumpalan raksasa yang meledak dan jadilah nebula-nebula serta galaksi, atau juga spiderman yang terbentuk akibat study tour nya ke museum, lalu digigit laba-laba radioaktif. Maka, kehidupan kuliah yang syarat akan kompleksitas mungkin saja bisa jadi teori baru bagi mereka yang merasa diubah pada kondisi ini. Umumnya adalah mengenai sikap menghadapi perbedaan yang sering dan selalu di temui. 

Beberapa akan mengasumsikan dalam sikap yang positif, beberapa lagi akan tetap kekeuh pada pendiriannya. Secara historis dari zaman sesepuh-sesepuh mahasiswa pendahulu, dan sampai saat ini terus menjadi stigma yang sulit untuk dipatahkan adalah cara pandang menghadapi diferensiasi orientasi dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Sebut saja di dalam kata Mahasiswa tersirat erat kehidupan yang berbeda, ada yang jadi aktivis kehidupan, yang tiap malam kalo ada kerja kelompok selalu berhalangan hadir lalu minta tugas atau bagiannya supaya bisa dikerjain pas waktu senggang. Ada lagi, yang jadi mahasiswa study oriented, apapun permasalahan bangsa yang sedang viral dan hits di social media mereka acuhkan, lalu kembali fokus belajar agar dapat IPK 4, lulus cepat dan bisa berkontribusi ketika lulus nantinya. Ada lagi nih, yang fokusnya pada prestasi juga prestise, apapun perlombaan yang ada, gratis atau sampai mengeluarkan lembaran-lembaran uang berwarna merah, bahkan kalo dana dari rektorat cairnya dikit selalu diupayakan untuk tetep ikut.

Berbeda adalah suatu kenyataan yang tidak akan bisa kita patahkan keeksistensiaanya. Selama 3 tahun kuliah di Malang, metamorfosa cara pandang menjadi value yang selalu saya syukuri dalam kehidupan perkuliahan ini. Dimulai pada tahun pertama, sifat egosentris dan merasa benar adalah pondasi dalam berprinsip. Ego yang besar ditambah dangkalnya menghadapi diferensiasi adalah karakter khas yang mungkin beberapa orang kenal dari saya, yang jika sedikit saja ada orang yang berbeda pendapat lalu secara instan, gamblang secepat kilat dikelompokan pada hal-hal yang bersifat galat, fatal, dan gagal. 

Rhenald Kasali (2014) dalam bukunya yang berjudul Self Driving, mengatakan sifat ini disebut sebagai sifat egosentrisme yaitu manusia yang menyakitkan orang lain, hanya bisa menjadi manusia yang kritis pada orang-orang yang berfikiran sama dengannya dan merasa senang bila dikelilingi oleh orang-orang yang bisa memberikan pembenaran-pembenaran terhadap langkah-langkah yang menguntungkan dirinya, namun bersikap sinis pada mereka yang berbeda dan tidak sesuai dengan pendapatnya. Pernah?

Berbeda Adalah Kita
Adanya perbedaan juga akan menghasilkan output lulusan yang berbeda sehingga tidak monoton dan homogen. Aktivis mahasiswa akan melanjutkan eskalasi pemerintahan dengan mengimplementasikan kajian-kajian publiknya ke dalam elemen-elemen masyarakat melalui skema perpolitikan. Mahasiswa study oriented¸ akan melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi lalu lahirlah professor-profesor yang memiliki kompetensi pada zamannya nanti. Mahasiswa berprestasi akan membuktikan hasil prestasinya kepada masyarakat yang luas, juga demikian dengan kehidupan mahasiswa lainnya, sehingga terjadilah life balancing di sektor-sektor negeri yang sedang krusial, tidak satu profesi namun majemuk dan penuh dengan keberagaman, semoga saja demikian.

Fenomena merasa benar di dalam segala hal akhir-akhir ini membuat sesak, penat dan juga pusing. Gibran Huzaifah dalam blog pribadinya mengatakan bahwa orang-orang seperti ini, saat baru tahu sedikit, berhenti untuk mencari tahu lebih. Mereka tersangkut di satu titik puncak kepercayaan diri berlebih, sekaligus titik pemahaman yang minim. 

Oleh karena itu menurut andil saya, mencari perspektif itu janganlah berkutat hanya pada satu titik. Berpetualanglah, berkelanalah, carilah titik-titik lainnya yang berbeda dan menyudutkan cara pandang kita, jika perlu cari yang bersifat antagonistis, lalu kaitkan pada pembenaran versi masing-masing, apa sudah relevan atau kemudian terjerembab dalam jebakan semu pembenaran, agar lebih tersadar bahwa panorama tidak hanya dapat dilihat dalam satu bentuk vista, agar belajar untuk bersikap secara komprehensif. Intinya sih, karena berbeda adalah kita mari belajar untuk menghargai prinsip orang lain. 


Toh, bukannya setiap manusia memiliki jalur tangannya masing-masing? kalo ngga percaya, coba liat telapak tangan temannya. 

Malang
28/03/2018
Ibnu Dharma Nugraha