Sabtu, 15 Juli 2017

Seorang Pembelajar

          Tulisan kali ini sebenernya ngga penting-penting amat, ya apalagi kalo bukan ngebahas diri saya sendiri, lebih tepatnya bio terbaru line saya, yeah akhirnya punya bio -_-“ ya ngga penting kan? Wkwk. oke tulisan ini murni tulisan untuk diri saya sendiri, dan mungkin untuk beberapa orang yang memiliki pemahaman yang sama seperti saya. Semasa kecil lebih tepatnya ketika SD saya selalu mendefinisikan belajar itu ialah sebuah proses transfer ilmu di dalam kelas, dari seorang guru kepada siswa-siswi nya, adapun ketika libur telah tiba, kata belajar selalu masuk dalam pengumuman di Toa sekolah, kira-kira gini bunyinya “Anak-anak besok libur, jangan lupa belajar di rumah ya” jelas kata belajar disini diartikan sebagai sebuah pergantian tempat transfer ilmu yang tadinya ada di sekolah di pindah ke rumah, selalu seperti itu. Namun seiring bertambahnya usia, kata belajar pun mulai mengalami peluasan makna, yang tadinya hanya berupa membaca buku, mengerjakan PR atau berfikir kini berubah menjadi lebih luas lagi. Menurut Thursan Hakim “belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan” kalo ditarik benang merahnya belajar itu adalah sebuah proses untuk membentuk pribadi yang lebih baik lagi, dari segala aspek, bukan hanya aspek kognitif aja, tapi juga afektif dan juga psikomotoriknya.

          Seorang Pembelajar, dari dua kata ini sebenernya bisa langsung di simpulin sih bahwa sang penulis ini lagi belajar, nah loh bukannya setiap orang itu belajar? Emangnya lo aja be? Eh, be itu apaan?  Yaps betul, dibilang saya lagi pencitraan aja wkwk, hmm, sebenernya dari dua kata itu saya berharap  bisa menjadi pengingat bagi saya untuk terus belajar, apapun itu, dimanapun itu dan dengan siapapun itu. sering mungkin kita atau saya merasa diri hebat dalam bidang tertentu, kemudian kita berubah meenjadi anti kritik, menyombongkan diri kepada siapapun yang hendak bertanya kepada kita, enggan berdiskusi karena dirasa sudah berada pada level naga dan ga perlu diskusi lagi katanya. Hayo? Sejujurnya saya pernah berada posisi yang sok hebat itu, dan mungkin sampai sekarang. (oke sedang berbenah, bukan benah rumah, eh bedah -__-), terus apa hubungannya be sama belajar? Orang-orang yang demikian sepertinya lupa belajar untuk mendengar, mendengar teman-teman disekitarnya, diajak diskusi dikira ingin pamer unjuk gigi, ada yang kritik dibilang tidak menghargai padahal siapa tau dari kritikan tersebut adalah tangga awal untuk menjadi lebih baik lagi, saya pernah berada pada posisi itu seolah menjadi paling benar dan tutup telinga mulut terbuka terhadap saran yang ada. Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman saya tentang sebuah kegiatan dalam suatu organisasi, disetiap kalimat yang teman saya sarankan kadang saya potong karena pada saat itu saya merasa yang paling benar dan rasional, adapun ketika saya terdiam sebenarnya dalam hati saya sedang menunggu untuk kemudian berpendapat dan membantah argumennya, yang saya akui ketika itu adalah apabila argument saya yang dipakai maka saya yang menang, maka kegiatannya akan sukses, saya lupa belajar untuk mendengar, padahal untuk menjadi pembicara yang baik terlebih dahulu harus bisa menjadi pendengar yang baik bukan? Ayo belajar untuk mendengar, karena sebenernya orang itu lebih suka loh untuk didengar pendapatnya :)

          Yang ini yang cukup penting adalah belajar untuk menilai dan memahami. kadangkali dan mungkin masih sering seseorang mendeskripsikan orang lainnya hanya berdasar kegiatan-kegiatan kecil, seperti menilai dari kegiatannya di social media atau mungkin menilai dari panjang, cepatnya balas chat di facebook?? Hmm, saya pernah kaya gitu, wkwk -_- lalu kita kategorikan orang tersebut adalah orang yang cuek, yang enggan di ganggu, padahal siapa tau nih dia lagi main sama temen-temennya, atau mungkin sedang membantu orang tua? Pernah juga suatu ketika saya sedang memimpin sebuah rapat kemudian ada anggota yang tidak hadir, tanpa alasan, kemudian dalam benak saya pikir dia malas untuk rapat, padahal setelah di konfirmasi ternyata sedang tidak enak badan, dan sedang tidak membuka hape, itu semua karena saya terlalu mudah menilai seseorang hanya dalam satu kejadian, tanpa memikirkan kejadian-kejadian yang lain yang saya tidak ketahui. Padahal seharusnya saya tabayyunkan dulu, konfirmasi dulu sebelum membuat dugaan-dugaan yang ga semestinya ada.

          Karena sejatinya kita ditakdirkan untuk menjadi pembelajar di kehidupan ini, semua detik yang kita lalui merupakan pembelajaran, bukannya sebagian dari kita sering berkata “pasti ada hikmah dibalik kejadian ini” tanpa disadari kita sedang mencari pembelajaran atas sebuah kejadian. Dan pada akhirnya yang yang terbaik adalah orang yang mau diperbaiki, orang yang bisa belajar atas sebuah kejadian, berbenah dan menjadi lebih baik lagi, jangan pernah merasa pintar dan mari belajar untuk menjadi seorang pembelajar  :)

Saya membagi dunia menjadi dua: pembelajar dan bukan pembelajar. Ada orang-orang yang belajar, yang terbuka dengan kejadian di sekelilingnya, yang mendengar, yang mendengarkan saran-saran. Bila mereka melakukan sesuatu yang bodoh, mereka tidak akan melakukannya lagi. Dan bila mereka melakukan sesuatu yang agak berhasil, mereka bahkan akan melakukannya lebih baik dan lebih keras selanjutnya. Pertanyaan yang harus diajukan bukanlah apakah anda sukses atau gagal, tapi apakah anda pembelajar atau bukan-pembelajar? -Benjamin Barber-


(tulisan ini dibuat karena penulis juga sedang belajar untuk menulis)