Sabtu, 14 April 2018

Langkah Kecil yang Ciamik

Kurang lebih, sepekan yang lalu saya ikut project magang berbasis sosial  sebagai salah satu syarat untuk menjadi bagian dari Forum Indonesia Muda (FIM) 20 Regional IV yaitu Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Tema project magang kali ini mengangkat isu pedesaan yang ada di Malang Raya. Kenapa desa? Jika ditilik secara seksama desa hari ini dilanda berbagai potensi namun juga masalah, rata-rata justru masalahnya adalah tidak bisa mengembangkan potensi desa tersebut, jadinya seperti huruf O, ngga habis-habis perputaranya dan gitu-gitu aja. 

Hal ini bukan berarti desa tidak bergerak dan diam, namun permasalahan tersebut secara general tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu atau dua pihak saja. Mengingat akar masalah dari potensi itu adalah bercabang-cabang, tumbuh, dan menopang berbagai kebijakan yang mungkin tidak berpihak pada masyarakat namun berpihak kuat pada kaum-kaum metropolis. 


Dari hasil survey singkat menggunakan metode kualitatif (wawancara) terhadap tiga desa hasilnya dapat dikira, dan terkesan sama. Yang satu punya potensi di bidang peternakan, namun masalahnya justru pada harga susu yang murah meriah, yang lainnya pun demikian. Adanya potensi justru dibarengi pada permasalahan-permasalahan yang cukup pelik jika dikontemplasikan dengan bijak.


Permasalahan desa di Negara kita memang tidaklah sama antara satu desa dengan desa lainnya, namun secara komunal dapat di jabarkan pada beberapa bagian. Seperti pendidikan yang kurang merata, infrastruktur yang tidak memadai, SDM yang masih rendah, Indeks Koefisien Gini atau ukuran ketimpangan masihlah sangat tinggi sehingga desa yang semulanya memiliki potensi untuk berkembang kemudian terbelenggu oleh rantai permasalahan-permasalahan tersebut. 

Padahal dari 9 Nawa Cita yang di gagas oleh Presiden Jokowi salah satunya adalah terkait dengan Pedesaan “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”. Namun nyatanya masih banyak kendala serta tantangan, oleh karena itu dalam kaitan membangun desa ini tidak bisa ditanggung jawabkan pada satu elemen atau dua elemen Negara, namun perlu adanya integrasi diantara satu pihak ke pihak lainnya, tidak linier dan lurus tapi eksponensial, bercabang dan menggapai hal-hal yang semula tidak dimungkinkan.

Langkah Kecil yang Ciamik
Alhasil, peserta yang hadir pada agenda open house kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan social project bertemakan “Villagenesia”. Singkat cerita dan setelah melalui berbagai cerita padat, penuh kekhusyuan dan mengasyikan. Kelompok kami, kelompok Kalem “4” memutuskan untuk melakukan social project di Desa Kidal dengan mengangkat isu Heritage nya yakni peninggalan sejarah tangible bernamakan Candi Kidal. 

Candi Kidal bisa dikatakan sebagai sebuah potensi destinasi wisata desa namun dalam penerapannya tidak luput dari permasalahan, seperti anak muda yang kurang cinta sama Candinya, beberapa bahkan ada yang mencorat-coret bagian Candi, dan yang lainnya ternyata masih banyak orang di luar Desa Kidal yang belum tahu candi Kidal. Alhasil, kami memetakan pada dua orientasi dasar untuk membantu potensi serta permasalahan tadi. 


Pertama, dalam ranah internal kami berupaya agar masyarakat setempat terkhusus anak-anak kecil zaman now dapat lebih mengenal warisan budaya yang ada di desa mereka, terlebih jika kita lihat arus globalisasi hari ini berdampak juga kepada isu budaya yakni munculnya penurunan rasa cinta terhadap warisan budaya masa lalu, upaya ini kami lakukan yakni berkolaborasi dengan beberapa pihak (Press Release Kegiatan)


Kedua¸ pada ranah eksternal kami mencoba mempublikasikan dan mensebarluaskan Candi Kidal ke dalam tatanan masyarakat terutama Mahasiswa yang ada di Kota Malang bahwa di titik jauh di luar radar mereka terdapat peninggalan sejarah yang harus diupayakan serta tetap hadir keeksistensinya. Karena tentunya peninggalan sejarah tersebut memiliki nilai historis tinggi yang dapat kita petik hikmah kejadiannya.

Masalah desa memang begitu berbelit-belit, pelik dan ruwet, dari hulu hingga hilirnya selalu saja ada hal destruktif dilematik yang harus didiskualifikasikan, didiskusikan dan dirampungkan secara bebarengan. Lantas timbul pertanyaan bagi pemuda milenial hari ini “Bisa apa kita (pemuda) pada kondisi ini?” atau “Uang juga masih minta dari papih mamih, kayaknya ngga bisa deh” atau lagi “Eh, masih banyak tugas kuliah juga sih, hehe” Sebuah kalimat “Lakukan apa yang bisa dilakukan” menurut saya cocok dilantaskan pada kondisi yang tidak lumrah ini. 

Masalahnya lagi-lagi kita selalu berurusan pada hal-hal besar dengan niat mengubah yang besar pula, Melakoni mimpi-mimpi ilusi yang sebenarnya ngga bisa kita lakukan hari ini. Alhasil yang semula mengaung untuk merubah lalu mengembek dan payah, terjatuh ke dalam lubang keniscayaan bahwa benar adalah besar, dan kecil adalah ciut. Maka, kuncinya hanya satu, “Lakukan!!”. Sesederhana apapun idenya, Sekecil apapun dampaknya, dan dalam ruang lingkup apapun itu selagi dilakoni dengan niat yang ikhlas untuk membantu sesama bagi saya adalah suatu hal yang ciamik dan baik. 


Toh, bukanlah hal-hal besar yang saat ini terjadi juga dimulai dari hal kecil yang kontinu, konstan serta penuh dengan pembaharuan? Facebook dari bagasi mobil rumahnya dan Trans Company dari mesin fotocopy sewaanya.

Alegorisnya bisa kita kaitkan pada sebuah api besar. Api besar  lahir dari pantikan api-api kecil yang kemudian tumbuh, memanas, menggelora dan menimbulkan asap dimana-mana. Efek jeranya adalah “KEBAKARAN” yang membuat kepanikan lalu merajela, membuat orang lain bangun dari tidur, sadar dari panorama mimpi, dan pulih dari ngga jelasnya ngelamun. Sehingga kemudian membaralah semangat melakukan kebaikan di daerah-daerah terpencil yang lain. Yang semula diam lalu berjalan dan yang semula berjalan terbaharukan untuk berlari. 

Pada akhirnya terbentuklah efek domino kebermanfaatan sehingga hadir langkah-langkah kecil di daerah yang lain, berjuta orang akan melakukan hal berbeda dengan orientasi kebaikan yang sama. Bayangkan, langkah kecil ciamik itu menyeluruh dan menebar.


“Guna apa mandala Sabang sampai Merauke jika yang ditilik hanya metropolis penuh begal ?” #SelfReminder

Malang
14/04/2018
Ibnu Dharma Nugraha

Press release project magang kelompok kalem “4” dapat di baca di koran Surya Malang (10/04/2018) atau juga versi onlinenya dapat di baca di sini http://surabaya.tribunnews.com/2018/04/09/cinta-datang-dari-kidal


Share:

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Wuss baru aja isengin mampir ke blognya mas ibe, ngasal ngeklik akhirnya baca ini. Keren si mas ��

Posting Komentar