Minggu, 10 September 2017

Fase Transisi

   Fase transisi merupakan fase yang membingungkan, dibenturkan pada sebuah kenyataan bahwa setiap insan dipaksa teralihkan dalam sebuah keadaan. Dengan tuntutan untuk mulai menanggalkan kelakuan yang ia biasakan. Berubah, diubah, bahkan mengubah. Si insan yang bijak akan memilih jalur transisi yang benar. Mengantarkannya pada roda kebaikan. Dipaksakan untuk keluar dari zonansi nyamannya. Lagi dan lagi, hingga terbiasa dan terbentuklah kebiasaan. Sebaliknya, si insan yang lena akan berjalan tetap tanpa pertimbangan. Mengacuhkan segala perubahan. Masuk pada jalur yamg sama bahkan tak luput dari kesalahan. Mengantarkannya pada sebuah kesamaran rasa nyaman. Terlena dilenakan hingga terbiasa dan terbentuklah kebiasaan.
Fase transisi : fase pendewasaan. Tak jarang, bentuk konkrit dewasa yang sebenarnya di awali pada fase ini. Jelasnya mengartikan fase ini bukan hanya tentang berkurangnya usia kehidupan, bukan pula tentang bertambahnya tinggi badan. Lebih dari itu adalah perubahan mindset untuk mendewasakan segala hal, sebut saja pemikiran, kelakuan, dan juga kebiasaan. Setiap insan yang masuk pada fase ini akan dihadapkan pada sebuah pilihan dua jalur perubahan. Tetap menetap dengan sikap dan pola pemikiran lamanya atau mentrasisikan diri pada sebuah kemungkinan untuk mulai mendewasakan. Masuk pada zonansi  aman yang nyaman atau belajar untuk keluar berhadapan dengan liku dan juga pilu proses kebaikan.
Fase transisi terkuat yang saya alami adalah ketika memasuki bangku perkuliahan. Diferensiasi ruang serta kegiatan mengharuskan saya untuk mengubah banyak hal ditambah lagi dengan ketiadaan sanak famili di Kota Malang tempat saya kuliah. Lalu dengan banyaknya sikap dan perilaku yang ditampilan mengkondisikan kehidupan kuliah yang syarat dengan kompleksitas, merangsang pemikiran untuk merubah kelakuan, dan mementokan kembali impian saya di masa yang akan datang. Jelas, untuk Menafikan diri pada kebiasaan lama adalah suatu hal yang rumit, merelakan kenyamanan digantikan dengan kepedihan adalah suatu hal yang sulit. Untuk berhasil pada fase transisi ini tidak bisa sendirian, perlu teman dan kawan untuk mendukung serta memotivasi. Maka, hal yang harus dilakukan di awal kuliah adalah dengan mencari kawan yang sejalan dengan pemikiran, seyakin dengan impian serta sekuat dalam proses kebaikan.
Ketika mentrasisikan diri pada sebuah keadaan bukan lampau. Sebuah permainan dan seperangkat aturan baru pun akan berlaku. Menarik energi mimpi dalam realisasi. Merenung sejenak untuk beraksi. Beberapa insan akan kuat dalam menjalani. Beberapa lagi akan mengalami kemorosotan semangat dan antusiasme lalu kembali pada rutinitas lama yang sama. Maka, untuk memberikan hasil yang permanen dan berjangka panjang adalah dengan mengingat, bahwa ada banyak impian yang harus direalisasikan. Ada kebaikan yang harus disalurkan serta ada kebermanfaatan yang harus dibangunkan. Maka Bentuklah kebiasaan dan kebiasaan itu akan membentukmu.

Tulisan ini diterbitkan di selasar dengan beberapa penyesuaian
(  https://www.selasar.com/jurnal/38529/Fase-Transisi )

Ibnu Dharma Nugraha
Tulisan ini terinspirasi dari inspiring story kawan saya yaitu Abdul Latif, FILKOM UB 2015.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar