Kamis, 10 Agustus 2017

Tapak Pengabdian

         
         
       
Mengawali tahun 2016, saya diberi kesempatan untuk bisa merasakan banyak sekali perjalanan dalam menempuh pelajaran di bangku Pendidikan. Eits, tapi ini bukan hanya tentang perjalanan saya, ini tentang perjalanan aku, kamu, kamu lagi dan mereka (Siswa-siswi SDn 03 Ngabab dan Mi Miftahul Ulum). Yaps, kesempatan menjadi seorang pengajar merupakan kesempatan yang jujur luarbiasa sekali, jauh dari ekspektasi atau bahkan mungkin tidak pernah saya ekspektasikan sebelumnya.

Untuk memulai menjadi pengajar di Brawijaya Mengajar sebenarnya ada dua jalur, yang pertama adalah harus menjadi staff Eksekutif Mahasiswa EM UB, dan yang kedua yaitu menjadi Volunteer Pengajar, sebenarnya sama saja, yang membedakan hanya tugasnya, jika staff mengurus masalah internal serta eksternal dalam Brawijaya Mengajar, sedangkan Volunteer hanya pada bagian pengajaran, penyususunan RPP. Oke pertama-tama singkirkan stratifikasi social seperti ini, karena bagi saya Brawijaya Mengajar itu ya mahasiswa Brawijaya yang mengajar, EM maupun Volunteer dan lain sebagainya tidak menjadi masalah, yang terpenting niat dalam hati yang ditunjukan dengan aksi nyata di kamis malam dan sabtu pagi (hayo masih pada ingat? Hehe). saya sendiri mendaftar menjadi staff EM UB karena pada saat itu sudah open recruitment duluan, jadi saya kira kesempatan harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, selanjutnya saya siapkan segala macamnya untuk bisa lolos tahap interview, latihan di depan webcam, stalking semua social media BM, bahkan stalking yang sering stalking BM (semacam perlombaan sudah sejauh mana teman saya mengenal BM, hehe). kemudian interview dan alhamdullilah diberikan kesempatan untuk belajar disini, di tempat yang selalu memberikan cerita unik di setiap sabtunya. Hari pertama mengajar? Bagaimana?

Hari itu menjadi hari yang tidak biasa, ku matikan nada alarm yang memekakan telingaku dan mungkin telinga di kamar sebelahku, aku pun bersiap untuk beranjak pergi ke kampusku kampus brawijaya, jujur tidak biasa karena hari itu adalah hari libur hari sabtu, yang dimana kebanyakan mahasiswa menggunakannya untuk mengerjakan tugas atau mungkin beristirahat dari penatnya laporan mingguan. Hehe. pada hari itu SDn 03 Ngabab sedang libur sehingga pengajaran dialihkan ke MI Miftahul Ulum, kemudian kami pun berangkat menuju titik pengabdian, Dekat? Tidak, Jauh? Banget. Waktu yang ditempuh dari brawijaya ke MI Miftahul Ulum sekitar 1 jam, rasanya seperti berkendara dari Kuningan ke Cirebon, hehe. sampai disana kami disambut dengan riangnya siswa-siswi MI Miftahul Ulum, ada yang manis nyatanya bengis, lari ke sana- ke sini, memanjat pagar, memanjat harapan yang tidak pernah tercapai juga ada, -_-“, singkat cerita, setiap pengajar di plotting ke setiap kelas, dan saya kebagian di kelas 4, tidak banyak yang saya ingat di pengajaran pada hari itu, yang paling saya ingat yaitu bermain Indonesia Pintar dengan teman-teman pengajar di sela waktu istirahat, bersama ka Wildan, ka Subhan, ka Gery, ka Ilham, Kaka-ka yang selalu saya sebut sebagai sesepuh BM, haha. hari itu menjadi pengajaran pertama saya setelah kurang lebih 3 tahun saya tidak pernah mengajar lagi.

Tahun 2016, Tahun Keajaiban, terdengar Lebay, tapi memang seperti itu pada kenyatannya, meluangkan waktu di kamis malam untuk briefing, sabtu pagi hingga siang untuk mengajar, bersenda gurau dalam seriusnya sebuah rapat (zaman itu saya masih cukup lucu, hehe), menjadi admin di Social Media BM, membuat Report pengajaran setiap mingggunya, dan masih banyak lagi kenangan yang tidak bisa saya tuliskan satu persatu disini. terimakasih untuk mas Medi (Ketua BM Ank. IV) yang telah memberikan saya kesempatan untuk bisa belajar disini, di keluarga kedua dalam perantauan ini, untuk mba Titi (Wakil Ketua BM) yang selalu peduli dalam senyap, untuk mas Ipul dan Inggit yang telah menjadi partner selama di Infokom BM, untuk Dayat dan Dian Wulan yang selalu semangat dalam menangani Ekskul, untuk Ummi yang menjadi boncengan pertama saya mengajar, untuk Avuan yang selalu saya ingat kegaringannya dalam berkomedi, untuk Mas Alif yang selalu memimpin rapat dalam bahasa Inggris dan Arab, untuk Yusdar dan Enta yang selalu Stay Cool dalam setiap rapat, untuk Mba Sarah dan Mba Ayun yang selalu punya kegiatan untuk BM, untuk Dhiya Husna sang sekretaris yang super sekali, untuk Arin, rekan bercerita di pengajaran awal, untuk Deyla dan Safira yang cukup rempong kalo ada anak yang bandel, untuk Eka yang punya ketawa paling keras kalo saya ngelucu, untuk Ka Afifah Salsabila, kaka ter tidak jelas di Brawijaya Mengajar, yang sok jutek di awal perkenalan, untuk mas Subhan, mas Wildan, mas Ilham dan mas Gery yang menjadi guru dalam manisnya pengabdian dan untuk Staff Muda dan juga Volunteer yang telah menjadi bagian dari Rumah ini, maaf tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Pada akhirnya satu tahun itu menjadi tahun yang sangat berharga bagiku, menjalani hari sabtu dengan kegiatan pengajaran telah sedikit membuka paradigmaku terhadap dunia pengajaran, bahwa menjadi pengajar tidak melulu soal mengajar, tapi lebih dari itu kita juga bisa belajar dari mereka anak-anak Sekolahh Dasar, dari semangat yang  selalu terpatri dalam senyumannya. Menjadi pengajar juga bukanlah tentang sebuah eksistensi, tapi ini tentang keikhlasan, cinta dan kasih sayang dalam pengabdian. Ya waktu itu mungkin telah berakhir tapi kenangan, pelajaran, dan canda tawa itu jelas akan selalu terukir dalam memoar diriku dalam sanubari jiwaku, dan ini adalah tapak pengabdianku dan juga kita, yang akan selalu dikenang dan mengenang. Terimakasih satu tahun itu, senang bisa mengenal kalian. Pengajar Brawijaya Mengajar Angkatan IV.

Note : Tulisan ini telah di posting sebelumnya di Website Brawijaya Mengajar. Klik Disini untuk Melihat Lebih
Share:

0 komentar:

Posting Komentar