Sabtu, 02 Desember 2017

Sejenak Berkontemplasi

Pemira telah usai, menandakan roda kepemimpinan akan beralih pada generasi milenial selanjutnya, mengartikan juga akan rampungnya kepengurusan organisasi di periode tahun ini. Seperti biasa dan yang sudah sudah ada dua kondisi pada fase akhir prosesnya.

Kondisi pertama tetap mesra, tetap sama walau dalam kondisi yang berbeda, tetap bersua walau hanya dalam ranah social media. Dan kondisi kedua adalah hal yang saya tidak suka. Acuh pada pertemuan, dianggap biasa dalam percakapan, mengalami stagnasi akut pada ujung organisasinya. Hmm. Beberapa harus sadar, atau memang perlu disadarkan?

Sadar kah kalo punya suatu ikatan itu adalah suatu hal yang langka? Sadar kah serunya ketika permasalahan yang ada dapat diselesaikan dalam horizon kekeluargaan? Sadar kah ketika canda tawa bisa jadi pelipur lara dalam zona perantauan? Ketika keluarga di kampung tidak bisa ditemui setiap hari, namun di sini masih banyak teman-teman yang bisa menemani? Sadar bahwa ngga semua orang bisa ngerasin rutinitas tiap minggu ini? Mengingat juga banyak orang yang gagal pada strata awal sebelum masuk ke dalam ikatan organisasi ini? Sadar?

Bersikap acuh pada periode akhir organisasi ini bukanlah suatu hal yang bijak teman. Menyikapi dengan cara menjauh bukan juga cara yang tepat. Berfikir dengan konteks tidak adanya saya pun semua proker dapat berjalan juga tidak benar.  

Bagi saya organisasi bukanlah hal yang remeh seperti itu, memang benar, ada ataupun tidak adanya saya/ kamu sebuah organisasi mungkin saja masih dapat berjalan. Namun pasti akan ada hal yang hilang. Bisa jadi tentang makna sebenarnya ada disini, bukan hanya tentang program kerja tapi lebih daripada itu; proses yang mendewasakan, kualitas berinteraksi, menyikapi perbedaan opini, menyikapi permasalahan antar pribadi. Dan yang terpenting adalah ukhuwah kontinu kita pada fase setelah organisasi nantinya. Tidak mau dan tidak ingin saya apabila di pertemuan-pertememuan selanjutnya kita menjadi pertemuan yg tabu dan asing, seolah tidak kenal padahal dulu saling mengenal, seolah lupa padahal dulu selalu bersua.

Di 1 bulan sebelum demisioner ini sepertinya saya dan mungkin kamu bisa sejenak untuk berkontemplasi pada kondisi final organisasi ini. Waktu tidak pernah bisa kembali termasuk impresi kita pada tempo mingguan ini. Candaan recehmu apalagi, mungkin tidak akan bisa lagi ditemui. Gores luka jelas selalu ada, tapi bukankah itu yang akan jadi cerita? Sebentar lagi kisah kita akan berakhir tapi saya yakin kenangan-kenangannya selalu bisa terukir.

Jadi, maukah kamu untuk mengukir kisah, momento serta memoar kita di 1 bulan terakhir organisasi ini? Menjadi akhir yang indah seperti pertemuan  paruh dan awal waktu kita? Mari mengukir sebelum pertemuan kita setelahnya menjadi pertemuan yang langka.  Semoga Allah tetap memberi kita kesempatan untuk bertemu juga bersua walau dalam keadaan ataupun situasi yang berbeda. Semoga

"Jika nanti kita jauh dan sesekali kamu bertanya dalam ragu, apakah aku rindu? Kamu tau jawabnya adalah selalu" (Anonim, 2016)

03/12/2017
Satu Bulan Menjelang Demisioner
Ibnu Dharma

Selasa, 10 Oktober 2017

Prioritas



Beberapa hari yang lalu saya selesai membaca salah satu buku terlaris yang ditulis oleh Sean Covey berjudul ; The 7 Habits of Highly Effective Teens, sebuah buku yang digambarkan dari kaca perspektif Sean tentang kepribadian dan kebiasaan kehidupan remaja yang sedang mentransisikan diri menuju fase pendewasaan. Dibuat dengan beberapa responden yang akurat dari hasil wawancara remaja yang telah atau sedang mengalami fase-fase tertentu. Dari tujuh kebiasaan yang ditulis saya cukup tertarik pada kebiasan nomor tiga, kebiasaan ketiga ini sebenarnya pernah juga disampaikan dosen saya ketika saya duduk di semester tiga dan sampai sekarang terus saya ingat. Kebiasaan ketiga ini adalah tentang Mendahulukan yang Utama. Pengertian Mendahulukan adalah terkait dengan menentukan mana prioritas nomer satu dan mana prioritas-prioritas berikutnya. Dalam kacamata saya, mendahulukan yang utama artinya sama juga dengan mendahulukan renjana, passion¸serta pengembangan diri sebagai langkah preventif dalam menghadapai masa depan yang terus berdisrupsi dengan cepatnya bak awan kintonnya son goku.


Dalam studi kasus saya sebagai seorang mahasiswa maka penentuan prioritas ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan dunia perkuliahan, kampus, maupun relasi pertemanan yang dibangun. dan mungkin saja akan terjadi diferensiasi perspektif dengan beberapa orang.

Kuadran 1 (Penting dan Mendesak) : Masuk dalam kuadran ini adalah suatu genting juga harus dilakukan, pada umumnya kebanyakan mahasiswa juga masuk dalam kuadran ini. Jelasnya kuadran ini adalah untuk mereka yang suka menunda, baik itu pekerjaan dalam skala mikro hingga yang besar. contohnya adalah mengerjakan tugas sehari sebelum dikumpul, masuk kuliah, mengikuti ujian,  dll.

Kuadran 2 (Penting dan Tidak Mendesak) : Jika kuadran satu adalah tentang suatu hal yang mendesak, yang dalam satu hari atau satu pekan memang harus direalisasikan. Jika tidak, beberapa dengan sadar akan mengalami kefrustasian yang merajuk. Perbedaan yang mecolok antara kuadran satu dan dua ini adalah urgensinya. Di kuadran dua adalah tentang hal-hal yang penting namun dalam implementasinya bukanlah suatu hal yang mendesak. Jika tidak dilakukan pun sebenarnya tidak akan menjadi masalah pada waktu tertentu. Idealnya, kuadran ini adalah tentang langkah preventif untuk menghadapi masa depan. Hasilnya bukanlah suatu hal yang dapat dipetik dalam satu hari atau satu minggu. Tapi menjadikannya investasi untuk masa depan. Selain itu, jika diakumulasikan, misalnya dalam populasi mahasiswa yang ada. Jelas hanya akan ada beberapa individu yang berani masuk pada kuadran ini. Contohnya adalah : Belajar bisnis, belajar Bahasa inggris, membangun networking, mengikuti perlombaan. Dll

Kuadran 3 (Tidak Penting dan Mendesak) : Hampir dari kebanyakan mahasiswa juga masuk pada kuadran ini, termasuk saya. dalam urgensinya memang medesak namun dalam implementasinya sebenarnya bukanlah suatu hal yang penting. Jika tidak dilakukan pun tidak akan menjadi problem yang mendesir dalam pemikiran.  Terbentuk atas tuntutan entah itu dari internal maupun luar. Contohnya : Berselancar secara berlebihan di social media, mantengin komentar-komentar di sebuah postingan yang viral. Dll

Kuadran 4 (Tidak Penting dan Tidak Mendesak) : Kuadran ini jelasnya adalah tentang bersantai-santai (leha-leha ?). Waktu yang diberikan tentunya tidak akan bisa dikembalikan, pada kuadran ini sebagian orang justru menyia-nyiakan waktunya dengan suatu hal yang tidak penting dan juga tidak mendesak. Dalam jangka panjang dapat menjadi kebiasaan buruk yang sulit untuk dihentikan. Contohnya : Nonton suatu film berulang-ulang, Nongkrong setiap hari, Dll

          Hal-hal yang saya tulis merupakan pemikiran saya pribadi. Contoh-contoh diatas bisa saja menjadi tidak relevan dengan kehidupan beberapa mahasiswa. Misalnya berselancar di social media karena ingin mengetahui kepribadian seseorang. Tentunya untuk beberapa orang akan menjadi suatu hal yang penting karena korelasinya adalah terkait dengan berhubungan antara insan. Jadi, semakin kita mengerti dan paham terhadap kegiatan yang utama maka semakin jelas pula kita dalam penentuan prioritas, dan semakin jelas menentukan prioritas maka semakin jelas pula untuk mempersiapkan diri guna mencapai impian di masa yang akan datang. Karena keberhasilan adalah pertemuan antara persiapan dan juga peluang, maka persiapkanlah.

Ibnu Dharma Nugraha
Twitter : @_Ibnudharma

Minggu, 01 Oktober 2017

Fokus-Yakin-Konsisten


         Kendala yang seringkali menjangkit para wirausahawan muda seperti saya adalah ketidakkonsistenan serta ketidakfokusan diri terhadap apa yang telah direncanakan, terhadap apa yang telah dimulai. Di satu waktu memiliki rasa antusiasme dan keoptimisan yang begitu tinggi bak kerajaan langitnya kera sakti, di waktu lain justru memudar terselimuti rasa resah, letih juga gelisah karena tahu jalan yang dilewati ternyata tidak sesuai dengan apa yang diteorikan dalam pemikiran. Kadangkala, atau bahkan sering saya melihat beberapa orang yang merintis usahanya lalu kandas di tengah jalan, lebih parah lagi di tengahnya tengah jalan. Padahal di awal waktu punya keinginan kuat untuk bermanfaat serta keyakinan hebat untuk membuat.
    Memulainya lagi-lagi saya katakan bukanlah suatu hal yang mudah, mempertahankannya sampai menuju visi apalagi. Dan jelas tidak sembarang orang yang bisa bertahan juga berjalan pada bidang ini, bertahan dalam prosesnya, bertahan untuk melaluinya. Dari hasil akumulasi paradigma yang sudah dan seringkali saya lihat juga rasakan. Ternyata hanya orang-orang tertentu yang bisa bertahan untuk mencapai orientasi akhirnya. Tidak dan bukan seseorang yang memiliki public speaking yang baik, tidak dan bukan seseorang yang punya jabatan dalam organisasinya, tidak dan bukan seseorang yang punya Indeks Prestasi mendekati empat, atau tidak dan bukan orang yang sering menjuarai perlombaan business model canvas. Tapi iya dan benar adalah mereka yang punya semangat, punya mimpi, dan punya orientasi yang jelas dalam memulai usahanya. Orang-orang yang sabar dalam menjalani, sabar dalam melalui. Orang-orang yang menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam prosesnya. Orang-orang yang yakin serta percaya bahwa pada setiap kejadian selalu ada hikmah yang tersimpan, ada pembelajaran yang bisa digenggam, bahkan pada konteks kegagalan serta bentrokan pada sisi-sisinya. Orang-orang yang mau belajar pada konteks dimana, gimana, apa, dan siapa, tidak kemudian merasa tinggi dengan ilmu yang sudah dikecap.

Menjadi Fokus
          Tulisan ini sebenarnya punya korelasi yang jelas dengan tulisan saya di minggu lalu , ya tentang ketidakmudahan dalam memulai sebuah usaha. Tulisan ini juga berasal dari hal-hal yang saya temukan beberapa bulan kebelakang dengan ikut berwirausaha bersama beberapa teman. Namun dalam nyatanya berakhir pada katakanlah serah menyerah, bahkan pada tahap sebelum launching produk. Di awal waktu sangat semangat ; membuat logo, membuat poster coming soon yang ngga tau comingnya kapan, membuat akun-akun media sosial, bahkan membuat website dengan patokan harga yang tidak murah. Namun kandas, selesai, hilang. Tutup usia pada waktu yang sama sekali tidak wajar, termakan oleh keputusaan dalam problematika yang dibenturkan pada perencanaan serta keyakinan.
          Maka poin penting pada kali ini adalah sebuah kefokusan, konsistensi serta keyakinan. Fokus dalam berproses, konsisten dalam melalui serta yakin bahwa ada Allah yang selalu membersamai kita, dalam jalan yang kita tempuh saat ini untuk masa yang akan datang. Lagi dan lagi saya berdo'a semoga Allah SWT memudahkan langkah saya dan teman-teman sekalian dalam meraih impian di masa depan. Amin Ya Rabbal Alamin
"La Tahzan, Innallaha Ma'ana" (Q.S At-Taubah [9]: 40).

Ibnu Dharma Nugraha
Twitter : @_Ibnudharma